Di tengah riuhnya media sosial, Kang Dedi Mulyadi (KDM) hadir sebagai sebuah anomali: seorang figur publik yang tidak hanya berwacana, namun secara konsisten menghidupkan napas kebudayaan dalam setiap tindakan politiknya. Namun, apakah pendekatan ini sekadar strategi populisme digital, atau justru ada filosofi mendalam yang sedang ia perjuangkan di tengah arus modernisasi?
Melalui kacamata hermeneutika dan semiotika yang tajam,
Dr. Hendri Juhana S,Th.I.,MM mengajak pembaca menyelami “pikiran” KDM di luar panggung politik formal. Buku ini bukan sekedar biografi; ini adalah pembacaan kritis terhadap bagaimana nilai-nilai luhur Sunda seperti ngamumule budaya, tatakrama, dan harmoni dengan alam yang ditransformasikan menjadi gaya kepemimpinan yang humanis dan relevan
bagi generasi digital.
Temukan jawaban bagaimana jati diri Tatar Sunda dipertahankan, disebarkan, dan disebarkan di tengah gempuran globalisasi. Buku ini adalah bacaan esensial bagi sejarawan, pemerhati budaya, dan siapa pun yang meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dari beton dan kebijakan, tetapi dari akar budaya yang
kokoh dan berkarakter.
Sunda bukan sekadar masa lalu. Sunda adalah cara hidup yang terus bernapas di era digital.




Reviews
There are no reviews yet.